Bunuh Diri

 

    


Bunuh diri adalah suatu cara untuk membunuh diri sendiri, mengakhiri kehidupan diri sendiri secara sadar dan disengaja. Bunuh diri adalah hal yang tabu dan sangat dilarang di hampir seluruh peradaban dunia. Namun, bunuh diri masih sering terjadi, sangat banyak faktor yang bisa menyebabkan seseorang  untuk bunuh diri. Sama halnya seperti gadis itu yang sedang duduk manis di pinggiran lantai teratas gedung. Sembari melihat ke arah bawah, melihat kerumunan daging manusia yang mungkin saja bisa dia hancurkan apabila kakinya ingin melompat.

   Para polisi pun sudah mulai berbaris di bawah gedung, meneriakkan kata penyemangat dan juga mengawasi orang-orang yang melihat gadis itu dari bawah. Terlihat para polisi itu kewalahan dengan semakin banyaknya orang-orang yang mulai keluar dari gedung. 

    Dan aku adalah salah satu dari mereka yang menonton gadis itu dari bawah. Berharap agar dia tidak melompat yang mana pada akhirnya hanya akan meninggalkan seonggok daging dengan isi yang terurai bagaikan tanah lumpur dilemparkan ke tembok. Hal bodoh itu hanya 

akan mengotori bagian luar gedung ini dengan cairan merah dan serpihan daging yang tak enak dipandang. Gadis itu mulai menggerakkan kakinya ke luar, bersiap untuk melompat. Namun, apa yang kulihat 

hanyalah keraguan untuk mengakhiri diri.

"Dia itu niat bunuh diri atau nggak?"

Salah seorang penonton di sebelahku mulai kesal menunggu.

"Goblok! Orang mau bunuh diri malah disuruh mati beneran," balas orang di sebelahnya.

  Suasana semakin memanas, sekumpulan orang yang berkumpul mulai membludak dan membuatku kesulitan untuk bergerak ataupun masuk ke dalam gedung. Di panasnya hari, entah karena kesal atau memang dia adalah psikopat, orang orang mulai berteriak dengan lantang agar gadis itu mau melompat ke bawah.

"Lompat, lompat, lompat!"

Suara itu semakin riuh, semakin panas dan apa yang kulihat hanyalah sebuah kemunduran moral 

dan ketiadaan empati untuk melindungi sesama.

"Inikah manusia zaman sekarang?"

  Pikirku dengan rasa tidak percaya. 

Aku mulai memikirkan hal yang paling buruk, dengan suasana seperti ini, pastinya hal ini akan membuat gadis itu semakin termotivasi untuk menerbangkan dirinya dan memelukkan tubuhnya ke arah salah satu penonton dengan kekuatan luar biasa besar.

  Aku bergerak menerobos kerumunan, mencari celah dan terus bergerak agar aku bisa masuk ke dalam gedung dan menuju lantai atas. Namun, padatnya kerumunan penonton ini membuatku ingin meletakkan bom di tengah dan meledakkannya agar aku bisa sampai ke atas gedung itu dengan cepat. Tapi mana mungkin kulakulan 'kan. 

Pada akhirnya, aku bisa menerobos aliran penonton yang masih meneriakkan kata penyemangat 

untuk bunuh diri, sementara sebagian lainnya memaki-maki si orator yang sama sekali tidak memiliki hati itu.

   Aku tidak tahu apa yang terjadi di luar, dan aku tidak peduli akan hal itu. Aku terus berlari, menerobos lobi dan menaiki tangga dengan kecepatan penuh, karena menurutku hal ini akan lebih cepat daripada menggunakan elevator. Menimbang kejadian si gadis ini akan menarik perhatian banyak orang, tentu saja hal ini akan memicu banyak orang 

untuk keluar dari gedung. Jadi, pilihan untuk naik melalui tangga adalah pilihan terbaik, pikirku. 

Aku terus berlari dan berlari, lantai demi lantai terus kulalui, kakiku mulai keram dan pegal, tapi kakiku ini tidak ingin berhenti untuk berlari walau aku ingin sekali berhenti hanya untuk meneguk segelas air.

"Sial! Ada apa denganku? Dia bukan siapa-siapa bagiku, tapi mengapa kakiku ini tidak bisa 

berhenti?" 

Ucap ku pada diriku. Aku berlari, berlari, dan terus berlari, hingga akhirnya aku mencapai lantai teratas, lantai 17.

  Di pintu keluar, aku melihat dua orang petugas kepolisian sedang berjaga. Mereka ragu untuk 

keluar, karena jika melakukannya, maka akan sangat mungkin apabila si gadis akan kaget lalu melompat ria dan terjun ke gerbang menuju dunia selanjutnya. 

   Aku terus berjalan, saat aku mendekati pintu itu, kedua petugas itu menghentikanku.

"Siapa anda? Jangan keluar melalui pintu itu," ucap salah satu petugas kepadaku.

"Aku ingin menghentikannya," balasku.

"Jangan sembarangan anda ini," ucap petugas yang satu lagi,

"memangnya anda ini siapa?"

"Saya pacarnya, ada pertanyaan lain?"

Jawaban itu spontan saja keluar dari mulutku, mengaku pacar? Bahkan akupun tidak kenal siapa Gadis itu. 

   Namun, sepertinya para petugas itu mempercayai ucapanku, dan dengan ragu-ragu, mereka memberiku jalan menuju pintu yang ada di depanku. Aku membuka pintu itu perlahan, kupastikan agar tidak ada suara sekecil apapun yang terdengar olehnya. Aku berjalan pelan menuju tempat di mana gadis itu sedang duduk. Aku menyandarkan tubuhku pada tembok yang tidak terlalu tinggi, tembok yang mencegah agar seseorang tidak terjatuh secara tidak sengaja, dan juga tembok yang merupakan tempat gadis yang ada di 

depanku ini duduki sebelum dia akhirnya akan membunuh dirinya sendiri. 

     Gadis yang ada di depanku ini mungkin memiliki masalah yang sangat berat, bahkan dia tidak menyadari kehadiranku yang hanya berjarak beberapa senti dari tubuhnya.

"Hai, kau mau apa?" Tanyaku padanya.

Dia seketika terkejut dan hampir saja kehilangan keseimbangan, tetapi tanganku segera 

memegang dan menarik tubuhnya agar dia tidak terjatuh. Tubuhku hampir saja ikut tertarik ke 

bawah, tapi untunglah kakiku cukup kuat dan aku bisa mencegahnya untuk terjatuh. 

   Gadis ini terlihat sangat terkejut karena dia hampir saja terjun menuju lantai beton di bawah sana.

"K-kamu siapa?" Tanyanya dengan suara gemetar.

Gadis itu bertanya padaku dengan ekspresi wajah ketakutan dan depresi, air mata terus 

menetes dari wajahnya. Dia memang terlihat memiliki cobaan hidup yang berat, atau mungkin dia kena azab, pikirku. Namun, aku segera menyingkirkan pikiran burukku.

"Kamu siapa?" Dia mengulangi ucapannya.

"Aku orang yang sudah mati, dan tempatmu duduk adalah tempat persis di mana aku mengakhiri Hidupku dulu.

"Jangan bercanda kamu!"

Gadis itu mulai marah, dia terlihat mengumpulkan niatnya untuk segera melompat.

"Kau yakin ingin melompat? Di bawah sana itu lantainya beton semua, lo."

"Memangnya apa urusanmu, hah!"

"Coba pikirkan, saat kamu melompat, maka aliran waktu akan melambat karena hormon 

adrenalin yang dipompa dengan deras ke seluruh tubuhmu. Dan saat waktu melambat, saat 

itulah kamu akan menyesal telah melakukannya. Kamu tahu maksudku 'kan?"

Dia berhenti bergerak sejenak, sepertinya gadis itu sedang berpikir.

"Tahukah kamu, dengan ketinggian ini, mustahil kamu akan langsung mati."

"Hah?"

"Ya, jika kamu melompat dan tidak menyesal melakukannya, maka pada akhirnya kamu akan terjun dengan bebas ke bawah. Hal itu akan membuat tulang lututmu menembus jantungmu sendiri. Kamu tidak akan langsung mati, tapi kamu akan merasakan kesakitan luar biasa selama beberapa menit sebelum akhirnya mati. Tulang-tulang rusukmu dan tulang belakang yang patah itu rasa sakitnya luar biasa. Percayalah padaku."

"Itu hanya beberapa menit, tidak sebanding dengan rasa sakit yang selalu datang padaku.

Memangnya tahu apa kamu soal aku!

Sorot matanya tajam, tapi terlihat jelas bahwa dia ragu. Dia masih memiliki sesuatu yang akan dia lakukan, dan dia masih memiliki sesuatu yang bisa dia cintai.

"Ingat soal waktu yang melambat? Satu menit itu bisa saja sangat lama saat kamu sudah berada di bawah sana."

   Aku berhenti berbicara sejenak, menatap birunya langit dan juga awan yang ada di atas.

"Kau tahu, rasanya tertusuk oleh lututmu sendiri itu sangat menyakitkan. Mau mencobanya? 

Coba saja melompat ke bawah."

    Lagi, gadis itu terlihat ragu dan menunjukkan ekspresi rasa takut di wajahnya. Sesekali, dia melihat ke bawah, lalu kembali melihat ke atas dan kemudian menatap wajahku.

"Darimana kamu tahu?" Tanyanya padaku.

"Sudah kubilang 'kan? Aku ini sudah mati."

    Pipi gadis itu mulai mengeluarkan air mata lagi, kemudian dia menangis. Aku yakin, dia tidak ingin mengakhiri hidupnya, hanya saja, dirinya tidak cukup kuat untuk menanggung masalah yang terjadi padanya.

"Kamu tahu, sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini," kata gadis itu padaku.

"Lalu?"

"Aku lelah, aku itu capek, semua masalah datang padaku, satu masalah, dua, tiga, empat, 

semuanya datang bersamaan, aku tidak kuat, aku sungguh tidak kuat."

"Sebelum itu, ceritanya boleh nggak kalo di bawah sini? Takutnya kepleset dan nyebur ke lantai beton di bawah sana."

     Gadis itu terlihat setuju dengan perkataanku, dia memutar tubuhnya dan akan turun untuk bercerita kepadaku. Namun, saat itu pula kerumunan orang di bawah sana mulai berulah.

"Woi, cepetan lompat!" Teriak salah seorang di bawah.

Sontak saja hal itu membuat si gadis ini terkejut dan juga membuatnya menghentikan tubuhnya. 

Aku yang sedang berusaha keras membujuknya dengan susah payah mulai terpancing emosi. 

Aku melihat ke bawah, ke arah kerumunan manusia yang menonton di bawah sana.

"Woi, Babi! Bisa diam nggak kalian anjing!"

Si gadis ini langsung kaget mendengarkan ucapaku, tanpa disadari dia terjatuh dari tempat dia duduk. Saat itulah kutahu, dunia yang kulihat mulai melambat, jatuhnya gadis itu juga mulai melambat. Bahkan aku bisa melihat ekspresi wajah takutnya dengan sangat jelas. Wajah itu .... 

Saat aku ingin menolongnya, aku tidak yakin aku sempat atau tidak, tapi aku melihat sebuah tangan yang mengejar gadis yang terjatuh di hadapanku. Tangan itu terlihat lambat di penglihatanku, tapi aku yakin tangan itu bergerak sangat cepat. Tangan itu terlihat berusaha sangat keras untuk meraih tubuhnya, dan ya, tangan itu berhasil menggapai tangan si gadis. Juga, saat itu aku sadar, tangan itu adalah tanganku yang bergerak dengan sendirinya. 

Tangan kananku menggenggam tangan kiri si gadis dengan erat, sangat erat sampai aku yakin 

si gadis itu merasakan sakit pada tangannya. Aku menariknya sekuat tenaga, aku menggunakan semua tenaga yang tersisa pada tubuhku untuk menariknya. 

      Riuh suara penonton di bawah mulai pecah, ada yang berteriak, ada juga yang menyoraki, ada juga yang hanya menonton kejadian itu tanpa berkata satu penggal kalimat apapun

"Mengapa aku sangat lambat!"

Aku menariknya sekuat tenaga, aku yakin itu. Aku bisa mengangkatnya ke atas.

"Lambat!"

   Aku mendengar suara orang yang berteriak, keras dan dekat. Namun suara itu bukanlah suara gadis yang sedang berayun dengan tanganku, bukan pula suara dua petugas yang berlari di belakangku, bukan pula suara riuh penonton yang sedang tegang di bawah sana. 

    Hal yang aku baru sadari, suara keras itu keluar dari mulutku, bukan dari siapapun, itu adalah suaraku. Aku berteriak sekuat tenaga. Aku menariknya sekuat tenaga, tapi aku sama sekali belum bisa membawa tubuh gadis ini ke atas. Saat aku mulai kehilangan genggamanku, dua tangan lain mulai menggapai tangan si gadis, tiga tangan yang ingin menyelamatkannya itu menarik tubuh itu ke atas, dan gadis itu pun ambruk di atas tubuhku. Aku hanya bisa tetap berbaring saat gadis itu masih terkejut dengan apa yang 

baru saja terjadi padanya. Cukup lama. Aku baru sadar, dia masih menangis, dan itu membuat pakaianku basah dengan air matanya.

"Ma-maaf," ucapnya pelan.

"Untuk apa?"

"Semuanya."

   Dua petugas itu hanya bisa berdiri dan terdiam memandang aku dan si gadis yang tidak kunjung 

bangun. Aku hanya bisa memberi sinyal dengan gerakan mulutku agar mereka meninggalkan kami sendiri.

"Kalau boleh tahu, siapa namamu?"

"Alexa, namaku Alexa."

"Alexa, ya? Nama yang bagus."

Saat itu, sebenarnya tanganku mulai keram, tapi gadis itu tidak kunjung bangun dan terus saja 

berada di atas tubuhku. 

Gadis itu menggerakkan kepalanya dan mendekatkan mulutnya di telingaku. Dia terlihat ingin 

membisikkan sesuatu padaku. 

"Namaku Aisy Alexa," bisiknya pelan.

Postingan populer dari blog ini

🌹Menolak hijrah🌹

BAB NIKAH 1

HARUS LEBIH BAIK